Gonorhea
Gonorhea adalah sebuah penyakit infeksi yang disebabkan oleh
Neisseria gonorrhea yang penularannya melalui hubungan kelamin baik
melalui genito-genital, oro-genital, ano-genital. Penyakit ini menginfeksi
lapisan dalam uretra, leher rahim, rektum, tenggorokan, dan konjungtiva.
Gonore atau Gonorrhae merupakan
Penyakit Menular Seksual (PMS) yang sering dijumpai yang dapat menginfeksi pria
maupun wanita, biasanya menyerang daerah kelamin tetapi juga dapat menyerang
bagian tubuh yang lain.
B. ETIOLOGI
Penyakit
ini disebabkan oleh suatu bakteri yang disebut Neisseria Gonorrehae yang
ditemukan oleh Neisseria pada tahun 1979. Penyebab pasti penyakit gonore adalah bakteri Neisseria
gonorrhea yang bersifat patogen.
Daerah yang paling mudah terinfeksi adalah daerah dengan mukosa epitel kuboid
atau lapis gepeng yang belum berkembang pada wanita yang belum pubertas.
Neisseria gonorrhoeae adalah bakteri yang tidak dapat
bergerak, tidak memiliki spora, jenis diplokokkus gram negatif dengan ukuran
0,8 – 1,6 mikro. Bakteri gonokokkus tidak tahan terhadap kelembaban, yang
cenderung mempengaruhi transmisi seksual. 7. Bakteri ini bersifat tahan
terhadap oksigen tetapi biasanya memerlukan 2 – 10% CO2 dalam pertumbuhannya di
atmosfer. Bakteri ini membutuhkan zat besi untuk tumbuh dan mendapatkannya
melalui transferin, laktoferin dan hemoglobin. Organisme ini tidak dapat hidup
pada daerah kering dan suhu rendah, tumbuh optimal pada suhu 35 – 37derajat Celcius
dan pH 7,2 – 7,6 untuk pertumbuhan yang optimal. Gonokokkus terdiri dari 4
morfologi, type 1 dan 2 bersifat patogenik dan type 3 dan 4 tidak bersifat
patogenik. Tipe 1 dan 2 memiliki pili yang bersifat virulen dan terdapat pada
permukaannya, sedang tipe 3 dan 4 tidak memiliki pili dan bersifat non-virulen.
Pili akan
melekat pada mukosa epitel dan akan menimbulkan reaksi radang.
C. MANIFESTASI
KLINIS
Pada pria :
·
Gejala
awal gonore biasanya timbul dalam waktu 2-7 hari setelah terinfeksi.
·
Gejalanya
berawal sebagai rasa tidak enak pada uretra kemudian diikuti nyeri ketika berkemih.
·
Disuria
yang timbul mendadak, rasa buang air kecil disertai dengan keluarnya lendir
mukoid dari uretra.
·
Retensi
urin akibat inflamasi prostat.
·
Keluarnya
nanah dari penis.
Pada wanita :
·
Gejala
awal biasanya timbul dalam waktu 7-21 hari setelah terinfeksi.
·
Penderita
seringkali tidak merasakan gejala selama beberapa minggu atau bulan
(asimtomatis)
·
Jika
timbul gejala, biasanya bersifat ringan. Namun, beberapa penderita menunjukkan
gejala yang berat seperti desakan untuk berkemih
·
Nyeri
ketika berkemih
·
Keluarnya
cairan dari vagina
·
Demam
·
Infeksi
dapat menyerang leher rahim, rahim, indung telur, uretra, dan rektum serta
menyebabkan nyeri pinggul yang dalam ketika berhubungan seksual
Wanita dan pria homoseksual yang
melakukan hubunga seks melalui anus, dapat menderita gonore di rektumnya.
Penderita akan merasa tidak nyaman disekitar anusnya dan dari rektumnya keluar
cairan. Daerah disekitar anus tampak merah dan kasar serta tinja terbungkus
oleh lendir dan nanah.
D. PATOGENESIS
Meskipun telah banyak peningkatan dalam pengetahuan
tentang patogenesis dari mikroorganisme, mekanisme molekular yang tepat tentang
invasi gonokokkus ke dalam sel host tetap belum diketahui. Ada beberapa faktor
virulen yang terlibat dalam mekanisme perlekatan, inflamasi dan invasi mukosa.
Pili memainkan peranan penting dalam patogenesis gonore. Pili meningkatkan
adhesi ke sel host, yang mungkin merupakan alasan mengapa gonokokkus yang tidak
memiliki pili kurang mampu menginfeksi manusia. Antibodi antipili memblok
adhesi epithelial dan meningkatkan kemampuan dari sel fagosit. Juga diketahui
bahwa ekspresi reseptor transferin mempunyai peranan penting dan ekspresi
full-length lipo-oligosaccharide (LOS) tampaknya perlu untuk infeksi maksimal.
Daerah yang paling mudah terinfeksi ialah daerah epitel
kolumnar dari uretra dan endoserviks, kelenjar dan duktus parauretra pada pria
dan wanita, kelenjar Bartolini, konjungtiva mata dan rectum. Infeksi primer
yang terjadi pada wanita yang belum pubertas terjadi di daerah epitel skuamosa
dari vagina.
E.
PENYEBARAN
DAN CARA PENULARAN
Gonore dapat
ditularkan melalui hubungan seksual dan dapat menyebar melalui aliran
darah ke bagian tubuh lain terutama kulit dan persendian. Pada wanita, gonore
bisa menjalar ke saluran kelamin dan menginfeksi selaput di dalam panggul
sehingga menyebabkan nyeri pinggul dan gangguan reproduksi.
Gonore dapat menyebar melalui aliran
darah ke bagian tubuh lain terutama kulit dan persendian. Pada wanita, gonore
bisa menjalar ke saluran kelamin dan menginfeksi selaput di dalam panggul
sehingga menyebabkan nyeri pinggul dan gangguan reproduksi
F.
KOMPLIKASI
¶ Pada pria
1. Tysonitis, biasanya terjadi pada
pasien dengan preputium yang sangat panjang dan kebersihan yang kurang baik.
Diagnosis dibuat berdasarkan ditemukannya butir pus atau pembengkakan pada
daerah frenulum yang nyeri tekan. Bila duktus tertutup akan menjadi abses dan
merupakan sumber infeksi laten.
2. Parauretritis, sering pada orang
dengan orifisium uretra eksternum terbuka atau hipos padia. Infeksi pada duktus
di tandai dengan butir pus pada kedua muara parauretra.
3. Radang kelenjar littre (littritis),
tidak mempunyai gejala khusus. Pada urin ditemukan benang-benang atau
butir-butir. Bila salah satu saluran tersumbat dapat terjadi abses folikualar.
Diagnosis komplikasi ini ditegakkan dengan urestoskopi.
4. Infeksi pada kelenjar Cowper
(cowperitis), dapat menyebabkan abses. Keluhan berupa nyeri dan adanya benjolan
di daerah perineum bagian dalam dan rasa penuh dan panas, nyeri pada waktu
defekasi, dan disuria. Jika tidak diobati abses, maka akan pecah melalui kulit
perineum, retra atau rectum dan mengakibatkan proktitis.
5. Prostatitis akut ditandai dengan
perasaan tidak enak di daerah perineum dan suprapubis, malaise, demam, nyeri
kencing sampai himeturia, spasme otot uretra sehingga terjadi pembesaran
prostate dengan konsistensi kenyal, nyeri tekan dan fluktuasi bila terjadi
abses. Jika tidak diobati abses akan pecah, masuk ke uretra posterior atau
kearah rectum mengakibatkan proktitis.
6. Gejala prostatis kronik ringan di
intermiten, tetapi kadang-kadang menetap. Terasa tidak enak di preneum bagian
dalam dan rasa tidak enak bila tidak terlalu lama. Pada pemeriksaan
prostatteraba kenyal, berbentuk nodus, dan sedikit nyeri pada penekanan.
Pemeriksaan dengan pengurutan prostate biasanya sulit menemukan gonokok.
7. Vesikulitis ialah radang akut yang
mengenai vesikula semineli dan diktud ejakulatorius, dapat timbul menyertai
prostatitis akut yaitu demam, pola kisuria, hematuria terminal, neri ereksi dan
ejakulasi dan sperma mengandung darah. Pada pemeriksaan melalui rectum dapat
diraba vesikula seminalis yang membengkak dan keras seperti sosis, memanjang
diatas prostat. Adakalanya sulit menentukan batas kelenjar prostate yang
membesar.
8. Pada vas deferentitis atau
funikulitis, gejala berupa perasaan nyeri pada daerah abdomen bagian bawah pada
sisi yang sama.
9. Epidimis akut biasanya unilateral
dan setiap edidimitis biasanya disertai vas deferentitis. Keadaan yang
mempermudah timbulnya edidimitis ini adalah taruma pada uretraposterior yang
disebabkan salah pengelolaan pengobatan atau kelainan pasien sendiri.
Edidimitis dan tali sperma tika membengkak dan teraba panas, juga testis,
sehingga menyerupai hidrokel sekunder. Pada penekanan terasa nyeri sekali. Bila
epididimis dapat mengakibatkan sterilitas.
10. Infeksi asendens dari uretra
posterior dapat mengenai trigonum vesika urinaria. Gejalanya berupa poliuria,
disuria terminal dan hematuria.
¶ Pada wanita
1. Parauretris kelenjar parauretra
dapat terkena, tetapi abses jarang terjadi.
2. Kelenjar bertholin dan labium mayora
pada sisi yang terkena membengkak, merah dan nyeri tekan, terasa nyeri sekali
bila pasien berjalan dan pasien sukar duduk. Abses dapat timbul dan pecah
melalui mukosa atau kulit. Bila tidak diobati dapat rekurens atau menjadi
kista.
3. Salpingitis, dapat bersifat akut,
sub-akut atau kronis. Ada beberapa factor predisposisi yaitu masa puerpurium,
setelah tindakan diatasi dan kuretrase, dan pemakaian IUD. Infeksi langsung
terjadi pada serviks melalui tuba fallopi ke daerah salping dan ovum sehingga
dapat menyebabkan penyakit radang panggul (PRP). Gejala terasa nyeri dibagian
abdomen bawah, duh tubuh vagina, disuria dan menstruasi yang tidak teratur atau
abnormal. PRP yang simtomatik atau asimtomatik dapat menyebabkan jaringan parut
pada tuba sehingga dapat mengakibatkan infertilitas kehamilan diluar kandungan.
¶ Komplikasi pada bayi
1.
Adanya kemungkinan lahir prematur,
infeksi neonatal dan keguguran akibat infeksi gonokokkus pada wanita hamil.
2. Adanya parutan
pada kornea dan kebutaan permanen akibat infeksi gonokokkus pada mata
3. Adanya sepsis
pada bayi baru lahir karena gonore pada ibu.
G. PENGOBATAN
1. Medikamentosa
a. Walaupun semua gonokokus sebelumnya
sangansensitif terhadap penicilin, banyak ‘strain’ yang sekarang relatif
resisten. Terapi penicillin, amoksisilin, dan tetrasiklin masih tetap merupakan
pengobatan pilihan.
b. Untuk sebagian besar infeksi,
penicillin G dalam aqua 4,8 unit ditambah 1 gr probonesid per- oral sebelum
penyuntikan penicillin merupakan pengobatan yang memadai.
c. Spectinomycin berguna untuk penyakit
gonokokus yang resisten dan penderita yang peka terhadap penicillin. Dosis: 2
gr IM untuk pria dan 4 gr untuk wanita.
d. Pengobatan jangka panjang diperlukan
untuk endokarditis dan meningitis gonokokus.
Pilihan utama dan kedua adalah siprofloksasin 500 gram
ofloksasin 400 mg. Berbagai rejimen yang dapat diberikan adalah
1. Siprofloksasin * 500 mr per oral,
atau
2. Ofloksasin * 400 mg per oral
3. Setriakson * 250 mg I injeksi intra
muscular
4. Spektimonisin 2 g injeksi intra muscular
dikombinasikan dengan
5. Dosisiklin 2 x 100 mg, selama 7 hari
atau
6. Tetrasiklin 4 x 100 mg, selama 7
hari atau
7. Eritromisin 4 x 500 mg, selama 7 hari
Untuk daerah dengan insiden galur Neisseria gonorrhoe
penghasil penisilinase (NGPP) rendah, pilihan utamanya adalah penisilin prokain
akua 4,5 juta unit + 1 gram probenesid. Obat lain yang dipakai, antara lain:
1. Ampisilin 3,5 gram + 1 gram
probenesid, atau
2. Ampisilin 3 gram + 1 gram probenesid
Pada kasus gonore dengan komplikasi
dapat diberikan salah satu obat dibawah ini :
1. Siprofloksasin * 500/hari per oral,
selama 5 hari
2. Ofloksasin * 400 mg/hari, injeksi intra
muscular, selama 3 hari
3. Setriakson 250 mg/hari, injeksi
intra muscular, selama 3 hari
2. Non-medikamentosa
a. Memberikan pendidikan kepada pasien
dengan menjelaskan tentang :
¾ Bahaya penyakit menular seksual dan
komplikasinya
¾ Pentingnya mematuhi pengobatan yang
diberikan
¾ Cara-cara menghindari infeksi PMS di
masa dating
b. Pengobatan pada pasangan seksual
tetapnya
c. Hindari hubungan seksual sebelum
sembuh dan memakai kondom jika tidak dapat dihindari.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN
GONORHOEAE
I.
Pengkajian
a. Data Subyektif
:
¾ Nyeri ketika
berkemih dan desakan untuk berkemih
¾ Keluarnya
cairan ( nanah ) dari saluran kencing.
¾ Demam
¾ Penderita akan
merasa tidak nyaman disekitar anusnya dan dari rektumnya keluar cairan.
¾ Daerah
disekitar anus tampak merah dan kasar serta tinja terbungkus oleh lendir dan
nanah.
¾ Pasien yang
datang dengan awitan gejala akut mengeluh lemah, nyeri lokal, demam dan
keluarnya nanah dari lubang saluran kencing.
¾ Riwayat psikososial, pasien seringkali
bertanya – tanya tentang pengobatan, perawatan dan ramalan penyakitnya.
b. Data Obyektif
¾
Daerah disekitar anus tampak merah dan
kasar serta tinja terbungkus oleh lendir dan nanah.
¾
Sediaan langsung dengan pewarnaan gram
akan ditemukan diplokokus gram negatif, intraseluler dan ekstraseluler,
leukosit polimorfonuklear.
¾
Kultur untuk identifikasi perlu atau
tidaknya dilakukan pembiakan kultur. Menggunakan media transport dan media
pertumbuhan.
¾
Tes definitif, tes oksidasi (semua
golongan Neisseria akan bereaksi positif), tes fermentasi (kuman gonokokus
hanya meragikan glukosa)
¾
Tes beta laktamase, hasil tes positif
ditunjukkan dengan perubahan warna kuning menjadi merah apabila kuman mengandung
enzim beta laktamase
¾ Tes Thomson
dengan menampung urin pagi dalam dua gelas. Tes ini digunakan untuk mengetahui
sampai dimana infeksi sudah berlangsung.
II.
Diagnosa dan Intervensi
a.
Diagnosa
Keperawatan : Nyeri berhubungan dengan reaksi infalamasi
Tujuan Perawatan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, klien akan:
1)
Mengenali faktor penyebab
2)
Menggunakan metode pencegahan non
analgetik untuk mengurangi nyeri
3)
Menggunakan analgetik sesuai kebutuhan
4) Melaporkan
nyeri yang sudah terkontrol
Intervensi
Keperawatan :
1)
Kaji secara komprehensif tentang nyeri
meliputi lokasi, karakteristik, dan onset, durasi, frekuensi, kualitas,
intensitas/beratnya nyeri, dan faktor-faktor presipitasi.
2)
Observasi isyarat-isyarat non verbal
dari ketidaknyamanan, khususnya ketidakmampuan untuk komunikasi secara efektif.
3)
Gunakan komunikasi terapeutik agar
klien dapat mengekspresikan nyeri
4)
Berikan dukungan terhadap klien dan
keluarga
5)
Kontrol faktor-faktor lingkungan yang
dapat mempengaruhi respon klien terhadap ketidaknyamanan (ex.: temperatur
ruangan, penyinaran, dll)
6)
Ajarkan penggunaan teknik non
farmakologik (misalnya : relaksasi, guided imagery, terapi musik, distraksi,
aplikasi panas – dingin, massage, TENS, hipnotis, terapi aktivitas)
7)
Berikan analgesik sesuai anjuran
8)
Tingkatkan tidur atau istirahat yang
cukup.
9) Evaluasi
keefektifan dari tindakan mengontrol nyeri yang telah digunakan.
b. Diagnosa Keperawatan : Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi.
Tujuan Kepertawatan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, klien akan:
1)
Suhu dalam rentang normal
2)
Nadi dan RR dalam rentang normal
3) Tidak ada
perubahan warna kulit dan tidak ada pusing
IntervensiKeperawatan :
1)
Monitor
vital sign
2)
Monitor
suhu minimal 2 jam
3)
Monitor
warna kulit
4)
Tingkatkan
intake cairan dan nutrisi
5)
Selimuti klien untuk mencegah hilangnya
panas tubuh
6)
Kompres klien pada lipat paha dan aksila
7) Berikan antipiretik bila perlu
c. Diagnosa Keperawatan : Perubahan pola eliminasi urin berhubungan dengan proses inflamasi
Tujuan Keperawatan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, klien akan:
1)
Urin akan menjadi kontinens
2) Eliminasi urin
tidak akan terganggu: bau, jumlah, warna urin dalam rentang yang diharapkan dan
pengeluaran urin tanpa disertai nyeri
Intervensi Keperawatan :
1)
Pantau eliminasi urin meliputi:
frekuensi, konsistensi, bau, volume, dan warna dengan tepat.
2)
Pantau spesimen urine pancar tengah
untuk urinalisis.
3)
Ajarkan pasien dan keluarga tentang
tanda dan gejala inferksi saluran kemih.
4)
Sarankan pasien untuk minum sebanyak
3000 cc per hari.
5) Rujuk pada ahli
urologi bila penyebab akut ditemukan.
d. Diagnosa Keperawatan : Kurang Pengetahuan berhubungan dengan informasi
yang tidak adekuat tentang program pengobatan
Tujuan Keperawatan :
1)
Klien memiliki tingkat pemahaman
tentang program pengobatan penyakit gonorrhoe
Intervensi Keperawatan :
1)
Kaji pemahaman klien tentang program
pengobatan penyakit gonorrhoe
2)
Lakukan penilaian tingkat pengetahuan
klien tentang program pengobatan penyakit gonorrhoe.
3)
Tentukan kemampuan klien untuk menerima
informasi kesehatan yang akan diberikan
4)
Berikan pengajaran sesuai kebutuhan
tentang program pengobatan penyakit gonorrhoe.
5)
Lakukan evaluasi terhadap progran
pengajaran yang telah diberikan
e. Diagnosa Keperawatan : Risiko penularan berhubungan dengan kurang
pengetahuan tentang sifat menular dari penyakit
Tujuan keperawatan :
1)
Dapat meminimalkan terjadinya penularan
penyakit pada orang lain
Intervensi Keperawatan :
1)
Berikan pendidikan kesehatan kepada
klien dengan menjelaskan tentang :
¾ Bahaya penyakit
menular
¾ Pentingnya
memetuhi pengobatan yang diberikan
¾ Jelaskan cara
penularan PMS dan perlunya untuk setia pada pasangan
¾ Hindari
hubungan seksual sebelum sembuh dan memakai kondom jika tidak dapat
menghindarinya.
f. Diagnosa Keperawatan : Harga diri rendah berhubungan dengan penyakit
Tujuan keperawatan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, klien akan :
1)
Mengekspresikan pandangan positif untuk
masa depan dan memulai kembali tingkatan fungsi sebelumnya dengan indikator:
2)
Mengindentifikasi
aspek-aspek positif diri
3)
Menganalisis
perilaku sendiri dan konsekuensinya
4) Mengidentifikasi
cara-cara menggunakan kontrol koping.
Intervensi Keperawatan :
1)
Bantu individu dalam mengidentifikasi
dan mengekspresikan perasaan
2)
Dorong klien untuk membayangkan masa
depan dan hasil positif dari kehidupan
3)
Perkuat kemampuan dan karakter positif
(misal: hobi, keterampilan, penampilan, pekerjaan)
4)
Bantu klien menerima perasaan positif
dan negatif
5)
Bantu dalam mengidentifikasi tanggung
jawab sendiri dan kontrol situasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar